Jika kita berikan jawaban tersebut
kepada seorang anak kecil, apakah ia paham dengan penjelasan kita? Memang,
itulah jawaban yg sebenarnya tentang Allah, namun jawaban itu masih global.
Tentu saja, karena jawaban itu ditujukan kepada orang kafir yang mendatangi
Rasulullah seraya berkata, “ Hai Muhammad, jelaskan sifat Tuhanmu kepada kami,
apakah Dia dari emas atau perak atau zabarjad atau yakut? Maka, Allah turunkan
ayat tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan orang tersebut.
Dari jawaban tersebut di atas juga
mungkin kita kurang puas, sehingga timbul lagi pertanyaan, “Kapan penamaan
Allah itu ada?”
Nama “Allah” itu ada tentu saja
ketika adanya orang Arab, karena kosa kata Allah itu berasal dari bahasa Arab,
Itu menurut orang Islam. Di Indonesia, misalnya, orang Yahudi mengadopsi kata
“Allah” menjadi “Alah” (baca: dengan satu huruf L) atau “Eloh”. Dalam bahasa
Indonesia, kata Allah diartikan sebagai “Tuhan”, sedangkan dalam bahasa
Inggris, menjadi “God”
Allah adalah nama Tuhan yang paling
agung. Para Ulama’ berbeda pendapat mengenai lafal mulia ini, lantas, apakah ia
termasuk dalam asmaul husna?
Asmaul Husna itu berarti nama atau
sifat Allah, maka tentu saja kata Allah bukan termasuk di dalamnya, karena
begitu agungnya kata “Allah”, bahkan yang teragung, maka tidaklah wajar jika ia
tidak termasuk Asma’ al-Husna.
Pertanyaan selanjutnya timbul dari
nama-nama Allah yang terdapat dalam Asma’ al-Husna, Apakah Allah itu terbatas
dengan sifat-sifatnya yang 99 itu?
jawabannya singkat saja, Allah itu tidak terbatas, sebutlah nama Allah dengan nama apapun, tapi yang dalam Asma’ al-Husna itulah yang terbaik, mengenai jumlah, kenapa 99? Itu cukup mewakili bahwasanya nama Allah itu tidak terbatas, karena setelah 9, itu paling banyak, bukan 10, karena 10 itu terdiri dari 1 dan 0.
jawabannya singkat saja, Allah itu tidak terbatas, sebutlah nama Allah dengan nama apapun, tapi yang dalam Asma’ al-Husna itulah yang terbaik, mengenai jumlah, kenapa 99? Itu cukup mewakili bahwasanya nama Allah itu tidak terbatas, karena setelah 9, itu paling banyak, bukan 10, karena 10 itu terdiri dari 1 dan 0.
Jika kita lihat adanya alam semesta
ini, tidak jauh-jauh, kita ada saja sudah membuktikan bahwasanya Allah itu
benar-benar ada, melalui makhluk-Nya lah kita mengetahui adanya Allah, karena
tidak mungkin adanya yang dicipta, jika yang menciptakan sendiri tidak ada.
Seperti yang dikataka oleh filosof Yunani-khusunya Aristotels-maupun oleh para
filosof muslim seperti Al-Kindi bahwasanya Allah dipandang sebagai “Al-Illat
al-Ulaa” yaitu sebab yang pertama. Persepsi tersebut beranjak dari keyakinan
bahwa suatu kejadian tidak bisa terjadi karena dirinya sendiri, tetapi terjadi
karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itulah di sebut sebab. Dan Allah
adalah sebab yang pertama. Sebagai contoh kursi ada karena ada yang
menciptakan, yaitu Manusia, dan manusia diciptakan oleh Tuhan. Nah, dilihat
dari kursi saja kita bisa mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Pertanyaanya, bagaimanakah
wujud Allah itu?
Wujud Allah memang unik. Lain dari
pada yang lain, ia bukan benda-benda inderawi yang tampak pada mata kita. Ia
adalah dasar bagi wujud mereka. Lalu wujud yang bagaimanakah ia?
Wujud Allah akan mewujud dengan
sendirinya, mengapa? Tidak mudah untuk menjelaskannya. Tapi cobalah renungkan
ini! Ketika kita mengatakan meja ada, kuri ada, pulpen ada, buku ada, langit
ada, planet ada, bahkan alam semesta ini ada, semua itu bisa kita katakan ada,
tentu saja ketika kita meyakini bahwa “ada itu sendiri” ada. Karena mustahil
kita bisa mengatakan semua itu, kalau “ada itu sendiri” kita tolak, jadi,
sebelum kita percaya bahwa sesuatu itu ada, maka kita harus bahwa “ada sendiri
“ itu ada atau “ada pada dirinya” ada terlebih dahulu sebagai syarat bagi
ada-ada yang lainnya. Dan ada yang seperti itu tidak perlu pembuktian, inilah
yang dimaksud dengan wujud murni, atau Tuhan, oleh Mulla Shadra
Memang, membicarakan Tuhan itu tidak
akan ada habisnya, dan memang tidak perlu kita cari sampai pada akar-akarnya,
karena akal kita terbatas, yang wajib kita lakukan hanya beriman kepada-Nya,
beriman itu juga tidak cukup diucapkan dari bibir, namun harus diyakini dalam
hati dan diaplikasikan ke dalam perbuatan, seperti disebutkan dalam al-Quran
surat an-Nisa’ ayat 136 yang artinya:
136. Wahai orang-orang yang beriman,
tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah
turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat
sejauh-jauhnya.

No comments:
Post a Comment