Tuesday, November 13, 2012

MAKNA LAA ILAAHA ILALLAH (TIADA TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH MELAINKAN ALLAH)

Kalimat laa ilaaha illallah ini mengandung makna penafian (peniadaan) sesembahan selain Allah dan menetapkannya untuk Allah semata.

Allah berfirman:
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” (Muhammad: 19)

Mengetahui makna laa ilaaha illallah adalah wajib dan harus didahulukan dari seluruh rukun yang lainnya.

Nabi bersabda:
“Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah dengan Keikh-lasan hati, pasti ia masuk Surga.” (HR. Ahmad, hadits shahih)

Orang yang ikhlas ialah yang memahami laa ilaaha illallah, mengamalkannya, dan menyeru kepadanya sebelum menyeru kepada yang lainnya. Sebab kalimat ini mengandung tauhid (pengesaan Allah), yang karenanya Allah menciptakan alam semesta ini.

Rasulullah menyeru pamannya Abu Thalib ketika menjelang ajal,
“Wahai pamanku, katakanlah, ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), seuntai kalimat yang aku akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allah, maka ia (Abu Thalib) enggan mengucapkan laa ilaaha illallah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau mengajak (menyeru) bangsa Arab: “Katakanlah, ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), maka mereka menjawab: ‘Hanya satu tuhan, kami belum pernah mendengar seruan seperti ini?’ Demikian itu, karena bangsa Arab memahami makna kalimat ini. Sesungguhnya barangsiapa mengucapkannya, niscaya ia tidak menyembah selain Allah. Maka mereka meninggalkannya dan tidak mengucapkannya. Allah I berfirman kepada mereka:
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah)’, mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila? ‘Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)’.” (Ash-Shaffat: 35-37)

Dan Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) dan mengingkari sesuatu yang disembah selain Allah, maka haram hartanya dan darah-nya (dirampas/diambil).” (HR. Muslim)

Makna hadits tersebut, bahwasanya mengucapkan syahadat mewajibkan ia mengkufuri dan mengingkari setiap peribadatan kepada selain Allah, seperti berdo’a (memohon) kepada mayit, dan lain-lain-nya.
Ironisnya, sebagian orang-orang Islam sering mengucapkan syahadat dengan lisan-lisan mereka, tetapi mereka menyelisihi maknanya dengan perbuatan-perbuatan dan permohonan mereka kepada selain Allah.

Laa ilaaha illallah adalah asas (pondasi) tauhid dan Islam, pedoman yang sempurna bagi kehidupan. Ia akan terealisasi dengan mempersembahkan setiap jenis ibadah untuk Allah. Demikian itu, apabila seorang muslim telah tunduk kepada Allah, memohon kepadaNya, dan menjadikan syari’atNya sebagai hukum, bukan yang lain-nya.

Ibnu Rajab berkata: “Al-Ilaah (Tuhan) ialah Dzat yang dita’ati dan tidak dimaksiati, dengan rasa cemas, pengagungan, cinta, takut, pengharapan, tawakkal, meminta, dan berdo’a (memohon) ke-padaNya. Ini semua tidak selayaknya (diberikan) kecuali untuk Allah . Maka barangsiapa menyekutukan makhluk di dalam sesuatu per-kara ini, yang ia merupakan kekhususan-kekhususan Allah, maka hal itu akan merusak kemurnian ucapan laa ilaaha illallah dan mengandung penghambaan diri terhadap makhluk tersebut sebatas perbuatannya itu.
Sesungguhnya kalimat “Laa ilaaha illallah” itu dapat bermanfaat bagi yang mengucapkannya, bila ia tidak membatalkannya dengan suatu kesyirikan, sebagaimana hadats dapat membatalkan wudhu seseorang.
Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaaha illallah, pasti ia masuk Surga.” (HR. Hakim, hadits hasan).

Lintasan Qalbu


Apabila seseorang mengetahui sesuatu melalui Panca Inderanya, pasti akan membekas kesan di dalam Qalbunya. Oleh karena itu Pengaruh Qalbu berasal dari sesuatu yang bersifat Lahiriah, yaitu dari Panca Indera. Adapun yang berasal dari dalam, berupa Khayalan, Nafsu syahwat, marah dan akhlak yang terkumpul menjadi tabiat, seperti Sombong, Iri, dengki, kikir, Riya, dsb.
Jika pengaruh yang datang dari luar atau lewat panca indera itu bisa di cegah, pengaruh dari dalam inilah yang berupa Khayalan, rasa was was yang meramaikan Qalbu, karena ia senantiasa masuk dan keluar.
Keadan Qalbu selalu dinamis, karena ia senantiasa berubah-rubah. hal tersebut timbul juga dari kesan yang membekas dalam Qalbu, bekas di dalam Qalbu itulah sisebut Lintasan Qalbu (Goresan hati).
Lintasan Qalbu inilah yang berupa pemikirana-pemikiran, menggerakakkan berbagai kemauan. Karena Munculnya kemauan, niat dan cita-cita itu ada setelah didahului oleh lintasan Qalbu.
secara runtut dielaskan seperti berikut : Permulaan dari perbuatan karena adanya Lintasan Qalbu, kemudian lintasan Qalbu itu menggerakkan keinginan. dari keinginan itu mendorong timbulnya cita-cita. Selanjutnya, cita-cita menggerakkan niat. dari Niat inilah akhirnya menggerakkan seluruh organ tubuh untuk berbuat atau melakukan tindakan.
Lintasan Qalbu yang membangkitkan keinginan itu dibagi menjadi dua. Pertama, lintasan Qalbu yang mendorong untuk berbuat baik atau terpuji. Kedua, Lintasan Qalbu yang mendorong tindakan buruk atau jahat.
Lintasan Qalbu yang mendorong perbuatan terpuji itu bermanfaat dan menyelamatkan, sementara yang mendorong perbuatan jahat itu jika dilaksanakan akan berakibat merugikan.
Perlu kita ketahui, bahwa Lintasan Qalbu yang mendorong tindakan buruk itu dinamakan was was 9godaan setan). Adapun Lintasan Qalbu yang mendorong tindakan baik (terpuji) itu berasal dari malaikat. Setan adalah makhluk yang diciptakan Allah dalam urusan dan perbuatan tercela. Ia menyuruh berbuat keji, menakut-nakuti kemiskinan, menimbulkan keragu-raguan terhadap iman dan sebagainya. Sedangkan Malaikat adalah Makhluk yang diciptakan Allah yang urusannya adalah mengirimkan Ilham ke dalam Qalbu untuk menerima  kebaikan. Inilah yang disebut Taufik (petunjuk).
Jadi cukup jelas, anatar lintasan Qalbu yang mengandung dorongan kejahatan dan lintasan Qalbu yang mengandung dorongan kebaikan, keduanya bertolak belakang.
"Di dalam Hati ada dua langkah, yaitu satu langkah dari malaikat yang memberi janji tentang kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran. Barangsiapa mendapatkan demikian itu hendaklah ia mengetahui bahwa itu dari Allah swt. Hendaklah ia Memuji allah. Dan satu langkah lainnya dari musuh, yang memberi janji kejahatan, pembohongan terhadap kebenaran dan mencegah berbuat kebaikan. Barang siapa mendapat demikian hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan."  (HR At Turmudzi dari Ibnu Mas'ud)
Allah membolak balikkan Qalbu kita sesuai dengan kehendakNYA, dengan melalui perantara kedua makhlukNYA tadi. oleh karena itu mana yang dominan menguasai Qalbu kita, bergantung kepada sejauh mana kita menahan Nafsu, Syahwat dan amarah, lalu membentenginya denga Dzikrullah, karena salah satu masuknya Bisikan Setan adalah melalui Qalbu yang lalai berDzikir.
"Sesungguhnya Pendengaran, penglihatan dan Hati, semuanya itu  akan diminta  pertanggung jawabannya" (QS Al Isra : 36)
Apa yang terlintas dalam Qalbu kita, lalu menjadi perbuatan oleh anggota tubuh kita, tidak terlepas dari pengawasan Allah Swt.
"Yaa Muqollibal quluubi Tsabbit Qalbii 'Alaa Diinik" "Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalam agamamu"

Ma'rifatul Islam (mengenal islam)


Islam ialah berserah diri kepada Allah dengan bertauhid dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik. Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.



I. TINGKATAN ISLAM Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima :

1. Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa "Laa Ilaaha Ilallaah" (Tiada sesembahan yang haq selain Allah) dan Muhammad adalah Rasulullah.

2. Mendirikan shalat.

3. Mengeluarkan zakat.

4. Puasa di bulan Ramadhan dan

5. Haji ke Baitullah Al-Haram.

1.Dalil Syahadat.Firman Allah Ta`ala yang artinya : “Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan (juga yang menyatakan demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS. Al-Imraan : 18). "Laa Ilaaha Ilallaah"` artinya : Tiada sesembahan yang haq selain Allah. Syahadat ini mengandung dua unsur : menolak dan menetapkan. "Laa Ilaaha" adalah menolak segala sembahan selain Allah. "Illallaah" adalah menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah semata-mata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kekuasaan-Nya. Tafsiran syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta`ala yang artinya : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : `Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakan-ku, karena sesungguhnya Dia akan menunjuki`. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid)". (QS. Az-Zukhruf : 26-28). Firman Allah Ta`ala yang artinya : "Katakanlah (Muhammad), `Hai ahli kitab! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, `Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerahkan diri kepada Allah)". (QS. Ali `Imran : 64).



Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah adalah firman Allah Ta`ala yang artinya : Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman". (QS. At-Taubah : 128).Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti : mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang disyariatkannya.



2.Dalil Shalat dan Zakat (juga tafsiran tauhid). Firman Allah Ta`ala yang artinya : "Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat serta mengeluarkan Zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus". (QS. Al-Bayyinah : 5).



3. Dalil Puasa. Firman Allah Ta`ala yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk puasa (Ramadhan) sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183).



4.Dalil Haji.Firman Allah Ta`ala yang artinya : “Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha tidak memerlukan semsesta alam”. (QS. Ali Imran : 97). II. TINGKATAN IMANIman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi kedudukannya ialah syahadat "Laa Ilaaha Ilallaah", sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu dari cabang Iman. Rukun Iman ada enam, yaitu :

1. Iman kepada Allah.

2. Iman kepada para Malaikat-Nya.

3. Iman kepada Kitab-kitab-Nya. 4. Iman kepada para Rasul-Nya.

5. Iman kepada hari Akhirat, dan

6. Iman kepada Qadar, yang baik dan yang buruk.



Dalil keenam rukun ini ialah firman Allah Ta`ala yang artinya : “Berbakti (dari Iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah Timur dan Barat, tetapi berbakti (dan Iman) yang sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari Akhirat, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi...". (QS. Al-Baqarah : 177). Dan firman Allah Ta`ala yang artinya : “Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar". (Al-Qomar : 49). III. Tingkatan IhsanIhsan rukunnya hanya satu, yaitu : “Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Dalilnya, firman Allah Ta`ala yang artinya : “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan". (QS. An-Nahl : 128). Dan firman Allah Ta`ala yang artinya : “Dan bertakwalah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesunnguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Asy-Syu`araa : 217-220).Serta firman-Nya yang artinya : “Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur`an yang kamu baca, serta pekerjaan apa saja yang kamu kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya". (QS. Yunus : 61).



Adapun dalilnya dari as-Sunnah, ialah hadits Jibril[1] yang masyhur, yang diriwayatkan dari `Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu `anhu: “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, tibatiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk dihadapan Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : `Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam`, maka beliau menjawab : `Islam adalah bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan puasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana`. Lelaki itu pun berkata : `Engkau benar`. Kata Umar : `Kami merasa heran kepadanya, ia yang bertanya kepada Nabi tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata : `Beritahulah aku tentang Iman`. Beliau menjawab: Iman adalah beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk`. Ia pun berkata : `Engkau benar`. Kemudian ia berkata : `Beritahulah aku tentang Ihsan`. Beliau menjawab : Ihsan adalah beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan- akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu`. Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : `Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya`. Akhirnya ia berkata : `Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu`. Beliau menjawab : `Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, pakaiannya compang-camping, sehari-hari sebagai pengembala domba, saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi`. Kata Umar : Lalu orang itu pergi, sementara kami berdiam diri dalam waktu yang cukup lama. Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : `Dia adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian". (HR al-Bukhari dan Muslim)[1] Disebut hadits Jibril, karena malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, dengan menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan masalah hari Kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum muslimin tentang masalah-masaalah agama.

Cukuplah Allah menjadi Penolong

Hati...
Siapa yang mengetahui isi hati seseorang? siapa yang bisa menyelami seberapa dalam dari hati seseorang? Bila kita melihat seseorang tersenyum apakah dia benar-benar bahagia? bila seseorang menangis apakah itu berarti dia sedang bersedih? apakah seperti itu kenyataannya?. Hati, tidak ada seorangpun yang mampu menebak dengan pasti dalamnya hati bahkan kita sendiri, kadang tidak bisa memahami apa yang ada di dalam hati.

Apa yang terlihat di luar belum tentu itu tercermin di dalam hati, bukan berarti munafik tapi kadang orang lain tidak perlu tahu apa yang sebenarnya kita rasakan saat itu, bila kita bahagia tidak perlu kita perlihatkan kebahagian itu secara berlebihan kepada orang lain, ketika kita bersedih tidak perlu mereka mengetahui seberapa sakit apa yang menimpa kita hingga membuat kita bersedih. Begitu juga ketika hati kita merasa jengkel, jangan sampai orang lain kena getahnya. Cukuplah kita sendiri yang mengetahuinya dan Allahlah tempat kita menumpahkan segala rasa yang ada di hati, hanya Allah tempat kita curhat, tempat kita berserah diri. "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."

Saat ini, di suatu tempat ada hati yang begitu bahagia, seolah ia ingin tersenyum setiap saat. Iyah, di sana ada hati yang berbunga-bunga karena akan memiliki apa yang sangat dia harapkan selama ini, dia sedang mempersiapkan hari besar dalam hidupnya. Saya bisa membayangkan bagaimana hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan, kesenangan dan suka cita. Tapi sebaliknya, di sini ada hati yang terluka karenanya, sedih karena kebahagian yang dirasakan olehnya. Tahukah dia bahwa hati saya sakit di saat dia justru merasakan kebahagiaan yang sempurna? Tahukah dia bahwa saya ingin menangis, justru ketika dia tersenyum dan tertawa? 

Hem..dalamnya hati siapa yang tahu? senyum saya masih ada, tawa saya kadang masih terlihat dan canda itu juga masih kuberikan kepada setiap orang di dekat saya, tidak ada yang tahu bahwa di balik apa yang mereka lihat dari mimik wajah & tingkah laku saya sebenarnya saya sedang terluka, saya ingin menangis saat itu, tidak ada yang tahu tentang itu. Hanya Allah dan saya yang mengetahui dalamnya hati saya, hanya Allah tempat saya mengembalikan semua rasa di dalam hati, hanya Allah pengobat sakit & lara hati ini. Hanya dengan mengingat Allahlah saya berusaha menenangkan hati ini ketika kebahagiaan seseorang merenggut kebahagian saya, ketika tidak ada seorangpun yang memahami dalamnya hari saya. 

Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar walahaulawalaquwataillabillah rangkaian kalimat ini yang membasahi bibir saya, menggetarkan hati yang sedang saya tata kembali, menemani butiran air yang menetes dari kelopak mata saya berharap setelah ini semua akan baik-baik saja. Seperti halnya sabda Rasulullah “Perbanyakkanlah membaca La Haula Wala Quwwata Illa Billah kerana sesungguhnya bacaan ini adalah obat bagi 99 penyakit, yang mana penyakit paling ringan adalah kebimbangan” (Riwayat Al-Uqaili melalui jabir r.a.) 

Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar walahaulawalaquwataillabillah

Hasbunallahu wa ni'mal wakiil ni'mal maula mani'man nashir 
Ya Rabb... 
Semua datangnya dari Engkau dan semua akan kembali kepada Engkau, maka hamba serahkan semua rasa ini kepadaMu Ya Rabb... Kuatkanlah hamba menghadapi setiap ujian yang Engkau berikan, Ikhlaskanlah hati hamba untuk menerima setiap takdir yang Engkau tuliskan kepada hamba. Hanya Engkau Ya Rabb yang mengetahui dengan benar dalamnya hati saya maka hamba mohon tuntunlah diri ini untuk tetap berada dalam kebenaranMu Amin Allahumma Amin

RAHMAT ALLAH BAGI YANG BERJILBAB


Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang ‘ngetrend’ dan biasa kita dengar adalah ”Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka ‘ngerumpi’ berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya.

Syubhat lainnya lagi adalah ”Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??

Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana. Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan “tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang itu.

Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu “ala llah’ artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.



Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta’ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya.

Lengkapnya adalah sebagai berikut:
“Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian “(HR. Muslim 2564/33).

Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).

Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya.

Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat. Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita.

Umur 25 Nabi -'Alaihimus Salam- Dan Letak Makam Mereka

1. Nabi Adam ‘Alaihis Salam
Umur : 1000 tahun
Makam : India, menurut satu pendapat ada di Makkah, dan menurut pendapat lain ada di Baitul Maqdis
2. Nabi Idris ‘Alaihis Salam
Umur : 865 tahun
Makam : (tidak ada informasi)
3. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
Umur : 950 tahun
Makam : Masjid Kufah, , menurut satu pendapat ada di al-Jabal al-Ahmar (Gunung Merah), dan menurut pendapat lain ada di dalam al-Masjid al-Haram Makkah.
4. Nabi Hud ‘Alaihis Salam
Umur : 464 tahun
Makam : di Timurnya Hadharamaut, Yaman.
5. Nabi Shalih ‘Alaihis Salam
Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya.
Makam : di Hadharamaut
6. Nabi Luth ‘Alaihis Salam
Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya.
Makam : Shou’ar
7. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam
Umur : 200 tahun
Kelahiran : Lahir pada 1273 tahun setelah peristiwa banjir dan topan pada masa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam.
Makam : di kota al-Khalil (Palestina), dimakamkan bersama Sarah (isteri pertamanya).
8. Isma’il ‘Alaihis Salam
Umur : 137 tahun
Makam : dimakamkan di samping Ibunda (yakni Hajar) di Makkah (di sekitar Ka’bah dekat Maqam Ibrahim)
9. Nabi Ishaq ‘Alaihis Salam
Umur : 180 tahun
Makam : dimakamkan bersama Ayahanda (yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam) di kota al-Khalil (Palestina).
10. Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam
Umur : 137 tahun
Wafat : di Mesir
Makam : untuk memenuhi wasiatnya, oleh sang putra (Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam), jenazahnya dipindah dimakamkan ke kota al-Khalil (Palestina)
11. Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam
Umur : 110 tahun
Wafat : di Mesir
Makam : oleh saudara-saudaranya (untuk memenuhi wasiatnya) jenazahnya kemudian dipindah dimakamkan di Nablus (Palestina)
12. Nabi Syu’ab ‘Alaihis Salam
Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya.
Makam : di desa Hathin dekat kota Thabariyah (Syria)
13. Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam
Umur : 93 tahun
Makam : di desa Syaikh Sa’d (dekat kota Damasykus) Syria.
14. Nabi Dzul Kifli ‘Alaihis Salam
Umur : (tidak ada informasi)
Lahir : di Mesir
Makam : wafat di daerah gunung Thursina, menurut salah satu pendapat di samping Ayahanda di salah satu kota di Syam.
15. Nabi Yunus ‘Alaihis Salam
Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya.
Makam : tidak ada informasi sama sekali tentang letak makamnya.
16. Nabi Musa ‘Alaihis Salam
Umur : 120 tahun
Makam : wafat di daerah gunung Thursina dan di makamkan di sana.
17. Nabi Harun ‘Alaihis Salam
Umur : 122 tahun
Makam : wafat di daerah gunung Thursina dan di makamkan di sana.
18. Nabi Ilyas ‘Alaihis Salam
Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya.
Lahir : dilahirkan setelah masuknya Bani Isra’il ke Palestina.
Makam : menurut satu pendapat ada di Ba’labak (Lebanon). (Tapi menurut satu pendapat, beliau belum wafat sampai sekarang –penerjemah)
19. Nabi Ilyasa’ ‘Alaihis Salam
Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan tempat tinggalnya dan daerah yang dituju setelah kaumnya ingkar di kota Banyas.
20. Nabi Dawud ‘Alaihis Salam
Umur : 100 tahun
Kerajaan : bertahan sampai 40 tahun
21. Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam
Kerajaan : beliau mewarisi kerajaan Ayahanda (yakni Nabi Dawud ‘Alaihis Salam) ketika umur 12 tahun, kerajaannya bertahan sampai 40 tahun.
22. Nabi Zakariya ‘Alaihis Salam
Wafat : beliau dibunuh dengan cara digergaji oleh orang yang telah menyembelih sang putra (Nabi Yahya ‘Alaihis Salam)
23. Nabi Yahya ‘Alaihis Salam
Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya.
Lahir : pada tahun yang sama dengan tahun kelahiran Nabi ’Isa al-Masih ‘Alaihis Salam.
Wafat : ketika beliau sedang di Mihrab, disembelih oleh sesorang yang disuruh oleh seorang wanita jahat dari pihak raja yang zhalim.
Makam : kepalanya dimakamkan di Masjid al-Jami’ al-Amawi (Damasykus-Syria)
24. Nabi ’Isa al-Masih ‘Alaihis Salam
Umur : 33 tahun di bumi, kemudian Allah mengangkatnya ke langit setelah tiga tahun diangkat menjadi Nabi. Dituturkan, bahwa Ibunda (yakni Maryam) hidup 6 tahun setelah ’Isa al-Masih ‘Alaihis Salam diangkat ke langit. Maryam wafat dalam umur 53 tahun.
   25. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Lahir : di Makkah tahun 570 M.
Wafat : umur 63 tahun
Makam : di rumah ’Aisyah di Masjid Nabawi Madinah dan dimakamkan di sana.

Kisah Neil Armstrong Masuk Islam Setelah Mendengar Adzan Di Bulan


  Neil Armstrong adalah orang pertama yang mendarat di bulan. Neil pergi ke bulan menggunakan pesawat ruang angkasa USA bernama Apollo, bersama rekannya Buzz Aldrin. Pergi ke bulan merupakan hal yang amat menakjubkan bagi Neil. Saat-saat masa keberhasilannya itu, tak pernah ia lupakan.

Sampai akhrinya 30 Tahun berlalu,

Saat itu neil memutuskan untuk mengambil cuti kepada pihak NASA. Ia menghabiskan liburannya dengan berwisata ke Mesir. Ini kali pertama ia mengunjungi Kairo,atau pertama kalinya ia mengunjungi sebuah negeri Islam dalam rangka berwisata mencari hiburan dan mengembalikankesegaran setelah penat menghadapi rutinitas pekerjaan.

Beralih ke Mesir, akhirnya neil bersama wisatawan lain sampailah ke sebuah hotel yang terletak di tengah kota Kairo. Setelah beres mengurus registrasi, dengan tertatih dia pergi menuju kamarnya untuk beristirahat setelah letih menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Amerika menuju Kairo. Dan ketika dia berbaring di ranjang, tiba-tiba terdengarlah kumandang adzan...


Allahuakbar….. Allahuakbar…..


Ketika mendengar seruan itu, ia berpikir bahwa ini bukan pertama kali ia mendengar seruan seperti ini. Neil berpikir keras dimana dia pernah mendengarnya sebelumnya? Neil terus berusaha mengingat, tetapi dia tetap tidakmampu menemukan jawabannya.

Kemudian ia duduk, berdiri dan berjalan menuju kamar kecil, kemudian pergi mengambil makanan fast food sebelum turun untuk makan malam di lantai dasar.

Di ruang makan ketika dia sedang mengunyah sisa makanannya sambil ngobrol bersama dua orang temannya, kembali terdengar kumandang adzan dari salah satu menara mesjid yang banyak tersebar di Kairo, ia pun lantas terdiam, mencoba menyimak & menghayati lantunan kalimat-kalimat adzan yang didengarnya.

Kemudian dia berseru memanggil salah seorang pelayan yang ada disana & bertanya dengan bahasa inggris, “apakah kamu bisa berbahasa inggris?”

Si pelayan menjawab, “bisa sedikit tuan.”

Neil tersenyum & berkata, “seruan apa yg barusan tadi terdengar?”

Pelayan tadi menjawab, “maaf saya tidak mengerti maksud tuan.”

Neil berisyarat mengumandangkan adzan dengan terbata terbata, “Allahu akbar… Allahu akbar.”

Pelayan kemudian berkata, “itu panggilan untuk sholat, panggilan kepada seluruh kaum muslimin untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat yg dilakukan lima kali sehari.”

Neil pun mengucapkan terima kasih atas penjelasannya. Kemudian dia melanjutkan makan malamnya dengan duduk diam tanpa berkata apapun. Tiba-tiba ia bangkit dan meninggalkan teman-temannya lalu naik menuju kamarnya sambil berpikir, “pasti aku mendengarnya di salah satu film yg pernah aku tonton”. Sejenak dia berhenti berpikir, “ataupun mungkin di tempat lain?”.

“Ah tidak, bukan di film, aku mendengarnya dgn telingaku sendiri menggema di udara, tetapi dimana?” Sampai dia beranjak tidur pernyataan ini masih berputar di kepalanya. Ketika fajar menyingsing, Neil terbangun oleh suara adzan yang kembali berkumandang membelah angkasa :


Allahu akbar………Allahu Akbar………


Dia pun segera bangkit, duduk di tepi ranjang seraya mengerahkan segenap perhatiannya untuk mendengarkan suara itu, bersamaan dengan berakhirnya kumandang adzan, Neil teringat kembali bayangan tiga puluh tahun silam yang masa itu merupakan masa gemilang dalam hidupnya. Ketika itu dia mengendarai pesawat luar angkasa milik USA , Apollo, yg merupakan pesawat pertama dalam sejarah yg mampu mendarat di bulan. Tiba-tiba ia sadar bahwa “Ya, disanalah aku mendengar seruan ini untuk pertama kalinya dalam hidupku.” ungkapnya.

Kemudian dia berseru dalam bahasa inggris tanpa sadar, “Wahai Tuhan yang Maha Suci, Ya Tuhan, benar aku ingat bahwa disanalah, dipermukaan bulan itu aku dengar seruan itu untuk pertama kalinya dalam hidupku, dan disini, di Kairo, aku mendengarnya di bumi.”

Kemudian dia membaca sesuatu dan berusaha untuk kembali tidur, tetapi dia tidak bisa, diambilnya sebuah buku dari dalam tasnya dan mulai membacanya untuk merintang waktu hingga pagi menjelang, dia membaca tetapi pikirannya melayang entah kemana dan dia sama sekali tidak mengerti isi buku yang dibacannya.

Dalam hati dia berharap untuk mendengar lagi seruan itu. Hingga pagi dia membaca seperti itu dengan harapan akan kembali mendengar suara adzan, tetapi seruan yang ditunggu tidak kunjung terdengar.

Akirnya dia bangkit dan pergi ke kamar kecil dan mencuci mukanya, dengan cepat ia turun ke ruang makan untuk sarapan. Setelah itu dia pergi bersama sekelompok wisatawan untuk berkeliling, sementara itu seluruh panca ineranya dia pasang untuk menantikan saat dimana dia akan kembali mendengar lantunan seruan yang menggugahnya itu. Dia ingin meyakinkan dirinya sebelum memberitahukan wisatawan yang lain akan hal penting ini.

Kemudian rombongannya memasuki sebuah Museum Fir’aun dan di saat itu ia kembali mendengar kumandang adzan yang mengalun merdu dengan irama yang indah dari sebuah pengeras suara di museum. Neil meninggalkan rombongannya dan berdiri disamping pengeras suara itu sambil memperhatikan dengan seksama, di pertengahan adzan dia berseru memanggil temannya, “ hei, kesini, dengarkan seruan ini”.

Teman-temannya datang menghampiri dengan heran. Ketika salah seorang kelihatan akan berbicara, Neil memberi isyarat kepadanya agar diam dan mendengarkan seruan itu. Barulah setelah adzan selesai, Neil bertanya kepada mereka, “apakah kalian mendengarnya?”

“ya”, jawab mereka.

“tahukah kalian dimana aku pernah mendengarnya sebelum ini? Aku mendengarnya di permukaan bulan pada tahun 1969.”

Berserulah teman dekatnya, “Mr. Armstrong, mari kita kesana untuk bicara sebentar.” Kemudian mereka berdua pergi ke salah satu sudut & mulai bercakap-cakap tentang perasaannya yang aneh.

Tak lama kemudian Neil meninggalkan rombongannya dan mencegat taxi untuk pulang ke hotel, diwajahnya terlihat kemarahan dan emosi yg berkecamuk. “Bagaimana mungkin dia berkata bahwa aku mengada-ada dan aku telah gila?” pikirnya.

Neil berdiri di kamarnya selama dua jam sambil berbaring di atas ranjang sambil menunggu-nunggu suara adzan kembali, dan saat itu terdengarlah adzan Ashar.


Allahu Akbar… Allahu Akbar…


Neil bangkit dari posisinya, berdiri lalu membuka jendela dan untuk kesekian kalinya memperhatikan seruan itu, kemudian dia berseru, “tidak,aku belum gila, aku tidak gila, aku bersumpah demi Tuhan bahwa inilah yang aku dengar di permukaan bulan.”

Neil turun ke ruang makan agak terlambat agar tidak bertemu dengan temannya.

Sampailah ketika hari liburnya berakhir, Neil beserta wisatawan lain akan pulang ke Amerika….

Neil sengaja menghindari semua teman-teman seperjalannya, hingga mereka kembali ke Amerika.

Di Amerika Neil berusaha mendalami agama Islam, disaat itu ia mulai tertarik dengan Islam. Akhirnya, beberapa bulan kemudian, ia mengumumkan keislamannya, dan mengungkapkannya dalam suatu wawancara bahwa ia menyatakan masuk islam karena dia telah mendengar kumandang adzan dengan telinganya sendiri di permukaan bulan.

Asyhadu an laa ilaaha illallaah…

Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah…

Tetapi tak lama kemudian datanglah sepucuk surat dari NASA, berisi keputusan tentang pemecatannya dari pekerjaannya. Pendeknya NASA berlepas diri dan tidak mau membantu astronot yang pertama mendarat di bulan itu, karena dia menyatakan diri masuk Islam, dan menyangkal tentang terdengarnya adzan di permukaan bulan.

Neil Armstrong berseru dalam sebuah majalah mempertanyakan pertanggung jawaban mereka perihal keputusan pemecatannya, “Memang aku kehilangan pekerjaanku, tetapi aku menemukan Allah”.

believe it or not. subhanallah.


Jabalur Rahmah Bukti Kekuasaan dan Kebesaran Allah


“Jabalur Rahmah” adalah sebuah masjid yang di bangun sekitar 4 tahun yang lalu oleh masyarakat sekitar. Bangunan masjid “Jabalur Rahmah” ini berdiri kokoh diantara reruntuhan bangunan ruma
h dan bangunan lainnya yang diterjang derasnya air bah dari jebolnya Tanggul Situ... Gintung.

Padahal jarak masjid “Jabalur Rahmah” dengan pusat jebolnya tanggul Situ Gintung hanya sekitar 50 meter. Sungguh memang kalo Allah sudah berkehendak, rasanya tak ada yang tak mungkin.

Meskipun kalo dipikir pakai akal dan logika tidak akan ketemu, tapi itulah realitanya, sebuah bangunan masjid yang tetap berdiri dengan kokohnya diterpa hempasan air bah yang begitu deras. Padahal bangunan yang letaknya lebih jauh bahkan berkilo-kilo meter saja porak poranda diterjang dan tergenang oleh air bah tersebut.

Inilah bukti dari Kekuasaan dan Kebesaran Allah SWT atas semua ciptaan-Nya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut, dan tersadar dengan teguran-teguran-Nya kepada kita berupa musibah yang terjadi. Amin.

Gambar Masjid Dari Rangkaian Symbol

...   ★
..'''' 人
'(____)
. ┃口┃
. ┃口┃
..┃口┃        ★
. ┃口┃     ''''人
. ┃口┃   '''''(_____)     .人    
. ┃口┃  '''(__________)   '(____)   人
. ┃口┃____╭━━━━━╮_____'|_口|______
. ┃╭╮╭╮╭╮╭╮╭╮╭╮╭╮ |三||╭╮╭╮ ||
. ┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃ |三||┃┃┃┃ ||
. ┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃ |三||┃┃┃┃ ||
. ┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃ |三||┃┃┃┃ ||
━━━-------------------------------------------━━━━

............................................................................................

Tentang Mati Suri



PENGALAMAN MATI SURI
Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri
dalam Temu Alumni ESQ 'Menyaksikan Orang
Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia'.
Pengalaman mati suri seperti yang dialami
Aslina, telah pula dirasakan banyak orang.
Seorang peneliti dan meraih gelar doktor
filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond
A Moody pernah meneliti fenomena ini.
Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki
pengalaman yang hampir sama.Masuk
lorong waktu dan ingin dikembalikan ke
dunia.
Catatan ini dilengkapi pula dengan
penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin
yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan
orang yang mati itu ingin dikembalikan ke
dunia, serta penelusuran melalui internet
tentang Dr Raymond. Bagi pembaca yang
ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat
membuka situs www.lifeafterlife. Com dan
hasil penelitian Raymond tentang mati suri
dapat dibaca di buku Life After Life.
Aslina adalah warga Bengkalis yang mati
suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia
sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian
saat nyawanya dicabut dan apa yang
disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian,
pamannya Rustam Effendi memberikan
penjelasan pembuka. Aslina berasal dari
keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak
kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada
umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api
sehingga harus menjalanidua kali operasi.
Menjelang usia SMA ia termakan racun.
Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun.
Pada umur 20 tahun ia terkena gondok
(hipertiroid) . Gondok tersebut
menyebabkan beberapa kerusakan pada
jantung dan matanya. Karena penyakit
gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006
Aslina menjalani check-up atas gondoknya
di Rumah Sakit Mahkota Medical Center
(MMC)
Melaka Malaysia . Hasil pemeriksaan
menyatakan penyakitnya di ambang batas
sehingga belum bisa dioperasi.
'' Kalau dioperasi maka akan terjadi
pendarahan” jelas Rustam. Oleh karena itu
Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya
tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar
biasa, dan terpaksa pamannya membawa
Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12
malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat
darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan
napasnya sesak.Lalu ia dibawa ke luar UGD
masuk ke ruang perawatan. '' Aslina seperti
orang ombak (menjelang sakratulmaut, red).
Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan
syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya
Aslina menghembuskan nafas terakhir, ''
ungkapnya. Usai Rustam memberi
pengantar, lalu Aslina
memberikan kesaksiaannya.
'' Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon
mayat, calon penghuni kubur,'' begitu ia
mengawali kesaksiaannya setelah meminta
seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball
Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru
tersebut membacakan shalawat untuk Nabi
Muhammad SAW. Tak lupa ia juga
menasehati jamaah untuk memantapkan
iman, amal dan ketakwaan sebelum mati
datang. '' ” Saya telah merasakan mati,'' ujar
anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar
kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit
mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut
itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari
daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ''
Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari
kaki kanan saya,''
tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan
oleh pamannya kalimat thoyibah. '' Saat di
ujung napas, saya berzikir,'' ujarnya.
''Sungguh sakitnya, Pak, Bu,'' ulangnya di
hadapan lebih dari 300 alumni ESQ
Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut
dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya
ada dokter, pamannya dan ia juga melihat
jasadnya yang terbujur. Setelah
itu datang dua malaikat serba putih
mengucapkan ” Assalaimualaikum kepada
ruh Aslina. Malaikat itu besar, kalau
memanggil, jantung rasanya mau copot,
gemetar,'' ujar Aslina mencerita pengalaman
matinya.
Lalu malaikat itu bertanya: ''siapa Tuhanmu,
apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa
nama orangtuamu. " Ruh Aslina menjawab
semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia
dibawa ke alam barzah. '' Tak ada teman
kecuali amal,'' tambah Aslina yang Ahad
malam itu berpakaian serba hijau.
Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan
seorang pendakwah, tapi malam itu ia
tampil memberikan kesaksian bagaikan
seorang muballighah. Di alam barzah ia
melihat seseorang ditemani oleh sosok yang
mukanya berkudis, badan berbulu dan
mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok
itulah adalah amal buruk dari orang
tersebut.
Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah
mati,'' sekali lagi ia mengajak hadirin untuk
bertaubat dan beramal sebelum ajal
menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan
kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua
orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali
berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia
memanggil malaikat itu dengan '' Ayah ''.
''Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan
ayah saya,'' tanyanya. Lalu muncullah satu
sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang
berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab
ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun.
Ternyata memang benar, sosok muda itu
adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan
salam ke ayahnya dan berkata: ''Wahai ayah,
janji saya telah sampai.'' Mendengar itu ayah
saya menangis. Lalu ayahnya berkata
kepada Aslina. '' Pulanglah ke rumah,
kasihan adik-adikmu. '' ruh Aslina pun
menjawab. ''Saya tak bisa pulang, karena
janji telah sampai ''.
Usai menceritakan dialog itu, Aslina
mengingatkan kembali kepada hadirin
bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-
benar ada. '' Alam barzah, akhirat, surga dan
neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,''
ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan
ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu
dua malaikat memimpinnya kembali, ia
bertemu dengan perempuan yang beramal
shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi.
Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk
dan didudukkan di kursi tersebut,
disebelahnya terdapat seorang perempuan
yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh
Aslina bertanya kepada perempuan itu.
''Siapa kamu?'' lalu perempuan itu
menjawab.''Akulah (amal) kamu.''
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat
dan amalnya berjalan menelurusi lorong
waktu melihat penderitaan manusia yang
disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki
yang memikul besi seberat 500 ton,
tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya
koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh
Aslina bertanya kepada amalnya. '' Siapa
manusia ini ? '' Amal Aslina menjawab
orang tersebut ketika hidupnya suka
membunuh orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan
dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke
amalnya tentang orang tersebut. Amalnya
mengatakan bahwa manusia tersebut tidak
pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh
ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke
tubuhnya. Ternyata orang itu adalah
manusia yang suka berzina. Tampak juga
orang saling bunuh, manusia itu ketika
hidup suka bertengkar dan mengancam
orang lain.
Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang
ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan
terdapat 80 mata pisau yang tembus ke
dadanya, lalu berlumuran darah, orang
tersebut menjerit dan tidak ada yang
menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada
amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah
orang juga suka membunuh. Ada pula
orang yang dihempaskan ke tanah lalu
dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang
durhaka dan tidak mau memelihara orang
tuanya ketika di dunia.
Perjalanan menelusuri lorong waktu terus
berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam
yang gelap, kelam dan sangat pekat
sehingga dua malaikat dan amalnya yang
ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul
suara orang mengucap : Subnallah,
Alhamdulillah dan Allahu Akbar.
Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu
di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih
yang memiliki biji 99 butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak
tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan
cahaya, di belakang tepak itu terdapat
gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat
batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada
amalnya tentang tepak itu. Amalnya
menjawab tepak tersebut adalah husnul
khatimah. (Husnul khatimah secara literlek
berarti akhir yang baik. Yakni keadaan
dimana
manusia pada akhir hayatnya dalam
keadaan (berbuat) baik,red).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan
seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan
kepada amalnya. ''Saya mau shalat.'' Lalu
dua malaikat yang memimpinnya
melepaskan tangan ruh Aslina. ''Saya pun
bertayamum, saya shalat seperti orang-
orang di dunia shalat,'' ungkap Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk
melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan
pula kepada ruh Aslina, makam Nabi
Muhammad SAW. Dimakam tersebut
batangan-batangan emas di dalam tepak
''husnul khatimah'' itu mengeluarkan
cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya
seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu
pun bicara kepada ruh Aslina. ''Tolong kau
sampaikan kepada umat, untuk bersujud di
hadapan Allah.''
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran
manusia dari berbagai abad berkumpul di
satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina
hanya berjarak sekitar lima meter dari
kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia
itu berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan
lagi di sini Ya Allah.'' Manusia-manusia itu
juga memohon. ''Tolong kembalikan aku ke
dunia, aku mau beramal.''
Begitulah di antara cerita Aslina terhadap
apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri.
Dalam kesaksiaannya ia senantiasa
mengajak hadirin yang datang pada
pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat
dan beramal shaleh serta tidak melanggar
aturan Allah. Setelah kesaksian Aslina,
instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin
yang telah mendapat lisensi dari Ary
Ginanjar (pengarang buku sekaligus
penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan
bahwa fenomena mati suri dan apa yang
disaksikan oleh orang yang mati suri pernah
diteliti ilmuan Barat. Legisan
mengemukakan pula, mungkin di antara
alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9)
malam
itu ada yang tidak percaya atau ragu
terhadap
kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya,
rata-rata orang yang mati suri merasakan
dan melihat hal yang hampir sama.
'' Apa yang disampaikan Aslina, mungkin
bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita
semua, '' ujarnya.Legisan menjelaskan
penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr
tentang mati suri. Raymond mengemukakan
orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong
waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh
apa yang telah ia lakukan selama hidupnya.
Dan diakhir pengakuan orang mati suriitu
berkata: ''Dan aku ingin agar aku dapat
kembali dan membatalkan semuanya.''
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat
orang-orang berteriak ingin dikembalikan
ke dunia dan ingin beramal serta penelitian
Raymond yang menyebutkan' ' aku ingin
agar aku dapat kembali dan membatalkan
semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran
Surat Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100:
Hingga apabila datang kematian kepada
seseorang dari mereka, dia berkata:''Ya,
Tuhanku kembalikanlah aku (ke
dunia).''(99) . Agar aku berbuat amal yang
saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.
Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah
perkataan yang diucapkannya saja. Dan di
hadapan mereka ada dinding sampai hari
mereka dibangkitkan. (100).
Sebagai penguat dalil agar manusia
bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-
Zumar ayat 39: ''Dan kembalilah kamu
kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah
kepada-Nya sebelum datang azab
kepadamu kemudian kamu tidak dapat
ditolong (lagi).''
Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta

nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu
menyarankan agar Aslina senatiasa
berdakwah dan menyampaikan
kesaksiaannya
saat mati suri kepada masyarakat agar
mereka bertaubat dan senantiasa mentaati
perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Setelah acara, banyak di antara alumni
yang bersimpati dan ingin membantu
pengobatan sakit gondoknya. Para
hadirinpun menyempat diri untuk berfoto
bersama Aslina.
Semoga pembaca dapat mengambil
pelajaran dari kesaksiaan tersebut.



Menguak Tabir Kebesaran Allah SWT Atas Ka'bah dan Kota Makah

 Istilah Ka’bah adalah bahasa al-quran dari kata “ka’bu” yg berarti 
“mata kaki” atau tempat kaki berputar
bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6 dalam
Al-quran menjelaskan istilah itu
dengan Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’
dan ayat 5/95-96 mengandung istilah
‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau
“sumbu bumi” atau kutub putaran utara
bumi.
Neil Amstrong telah membuktikan bahwa
kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi.
Fakta ini telah di teliti melalui sebuah
penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya
melakukan perjalanan ke luar angkasa dan
mengambil gambar planet Bumi, dia
berkata, “Planet Bumi ternyata
menggantung di area yang sangat gelap,
siapa yang menggantungnya ?”
Para astronot telah menemukan bahwa
planet Bumi itu mengeluarkan semacam
radiasi, secara resmi mereka
mengumumkannya di Internet, tetapi
sayang nya 21 hari kemudian website
tersebut raib yang sepertinya ada alasan
tersembunyi dibalik penghapusan website
tersebut.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut,
ternyata radiasi tersebut berpusat di kota
Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang
mengejutkan adalah radiasi tersebut
bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini
terbuktikan ketika mereka mengambil foto
planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut
terus.
Para peneliti Muslim mempercayai bahwa
radiasi ini memiliki karakteristik dan
menghubungkan antara Ka’Bah di planet
Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
Makkah Pusat Bumi
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta
mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat
bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara
untuk menentukan arah kiblat di kota-kota
besar didunia.
Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada
peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan
seksama posisi ketujuh benua terhadap
Makkah dan jarak masing-masing. Ia
memulai untuk menggambar garis-garis
sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi
garis bujur dangan garis lintang.
Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit
dan berat itu, ia terbantu oleh program-
program komputer untuk menentukan
jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi
yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia
kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa
Makkah merupakan pusat bumi.
Ia menyadari kemungkinan menggambar
suatu lingkaran dengan Makkah sebagai
titik pusatnya,dan garis luar lingkaran itu
adalah benua-benuanya. Dan pada waktu
yang sama,ia bergerak bersamaan dengan
keliling luar benua-benua tersebut.
(Majalahal-Arabiyyah, edisi 237, Agustus
1978).
Gambar-gambar satelit, yang muncul
kemudian pada tahun 90-an, menemukan
hasil yang sama ketika studi-studi lebih
lanjut mengarah kepada topografi lapisan-
lapisan bumi dangan geografi waktu
daratan itu diciptakan.
Telah menjadi teori yang mapan secara
ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi
terbentuk selama usia geologi yang
panjang, bergerak secara teratur di sekitar
lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini
terus menerus memusat ke arah itu seolah-
olah menunjuk ke Makkah.
Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan
yang berbeda, bukan dimaksudkan untuk
membuktikan bahwa Makkah adalah pusat
dari bumi. Bagaimanapun, studi ini
diterbitkan di dalam banyak majalah sain di
Barat.
Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim
sebagai berikut:‘Demikianlah Kami
wahyukan kepadamu AlQur'an dalam
bahasa Arab supaya kamu memberi
peringatan kepada Ummul Qura(penduduk
Makkah) dan penduduk (negeri-negeri)
sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)
Kata ‘Ummul Qura’berarti induk bagi kota-
kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya
menunjukkan Makkah adalah pusat bagi
kota-kota lain, dan yang lain hanyalah
berada disekelilingnya. Lebih dari itu, kata
ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di
dalam kultur Islam.
Sebagaimana seorang ibu adalah sumber
dari keturunan, maka Makkah juga
merupakan sumber dari semua negeri lain,
sebagaimana dijelaskan pada awal kajian
ini. Selain itu, kata‘ibu’ memberi Makkah
keunggulan di atas semua kota lain.
Makkah atau Greenwich
Berdasarkan pertimbangan yang seksama
bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi
sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-
studi dan gambar-gambar geologi yang
dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini
bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich,
yang seharusnya dijadikan rujukan waktu
dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi
lama yang dimulai empat dekade yang lalu.
Ada banyak argumentasi ilmiah untuk
membuktikan bahwa Makkah merupakan
wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota
suci tersebut, dan ia tidak melewati
Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada
dunia ketika mayoritas negeri di dunia
berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu
Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi
setiap orang untuk mengetahui waktu
shalat.
Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang
menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai
golongan jin dan manusia, jika kamu
sanggup menembus (melintasi) penjuru
langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak
dapat menembusnya melainkan dengan
kekuatan.’(ar-Rahman:33)
Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata
‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu
pada langit dan bumi yang mempunyai
banyak diameter.
Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat
dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan
langit itu diatas diameter bumi (tujuh
lempengan bumi). Jika Makkah berada di
tengah-tengah bumi, maka itu berarti
bahwa Makkah juga berada di tengah-
tengah lapisan-lapisan langit.
Selain itu ada hadits yang mengatakan
bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat
Ka‘bah berada itu ada ditengah-tengah
tujuh lapisan langit dan tujuh bumi
(maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi).

Batu Ginjal Hilang Setelah Sedekah

Kisah nyata. Karena sakit batu ginjal yang dideritanya semakin parah, terpaksa dia harus opname di rumah sakit. Dari hasil diagnosa, dokter memutuskan untuk menyembuhkan sakit tetangga saya itu, jalan satu-satunya adalah dengan cara operasi.

Kabar itu sungguh mengejutkan bagi tetangga saya ini. Jangankan dioperasi, pada ja
rum suntik saja dia takutnya setengah mati. Dia bersikukuh tidak mau operasi, dia bersikeras menggunakan obat-obatan saja untuk mengobati sakit batu ginjalnya, walau dokter sudah memberi keputusan harus operasi.

Ditengah kebingungan, istrinya mendapatkan buku “The Miracle of Sedekah” karya ustad Yusuf Mansur. Buku itu memang berisi ulasan yang sangat bagus akan kekuatan sedekah. Dari buku itulah sebuah titik terang didapatkan tetangga saya, sebuah kesimpulan bahwa sedekah bisa mengatasi 1001 masalah, masalah kesehatan salah satunya. Akhirnya dengan keyakinan yang tinggi bahwa sedekah bisa juga menyembuhkan penyakit, sang suami meminta istrinya mengambil sejumlah uang untuk disedekahkan dengan niat agar penyakitnya bisa sembuh tanpa operasi.

Setelah uang diambil, uang itu dibagi dalam beberapa amplop. Kemudian uang itu dibagikan pada pasien dan keluarga di kelas 3, yang notabene adalah kalangan tidak mampu. Selain itu, semua bingkisan yang dibawa oleh teman-teman kantor atau relasinya, semuanya disedekahkan pada para tukang becak yang mangkal di depan rumah sakit.

Tak terasa, sudah tujuh hari tetangga saya opname di rumah sakit. Pada hari ketujuh itulah pernyataan mengejutkan datang dari dokter yang biasa menangani sakitnya. Dokter itu bilang bahwa batu ginjal yang berada dalam tubuhnya sudah tidak ada lagi sehingga operasi tidak jadi dilakukan…Subhanallah.

Kisah ini disampaikan tetangga saya saat memberikan ceramah tarawih malam tadi. Kebetulan tema ceramah dia adalah kekuatan sedekah, maka dia sekaligus menceritakan kisahnya yang berhubungan dengan sedekah itu agar bisa diambil hikmahnya bagi kami semua.

Dalam sebuah hadist, saat malaikat menanyakan apa kekuatan yang bisa mengalahkan gunung, Allah menjawab besi. Saat ditanya lagi apa yang lebih kuat dari besi, Allah menjawab api. Saat ditanya lagi apa yang lebih kuat dari api, Allah menjawab air. Ditanya apa yang lebih kuat dari air, Allah menjawab angin. Saat ditanya apa yang lebih kuat dari segala yang diciptakan tersebut Allah menjawab; SEDEKAH yang dilakukan tangan kanan tanpa diketahui oleh tangan kiri (maksudnya sedekah tanpa disertai pamer pada sesama manusia).



Fenomena Mayat di Atas Kubah Masjid NABAWI


Foto: Subhanallah, Fenomena Mayat di
Atas Kubah Masjid NABAWI bukti
Kebesaran Allah SWT
Terakhir ada seorang manusia yang
memanjat kubah hijau Masjid Nabawi
untuk dihancurkan, lalu disambar petir
secara tiba-tiba dan mati. MAYATNYA
MELEKAT PADA KUBAH HIJAU TERSEBUT DAN
TIDAK DAPAT DITURUNKAN SAMPAI
SEKARANG. Syekh Zubaidy, ahli sejarah
Madinah menceritakan ada seorang soleh
di kota Madinah bermimpi, dan terdengar
suara yang mengatakan “Tidak ada satu
orang pun yang dapat menurunkan mayat
tersebut, agar orang yang belakangan
hari dapat mengambil, i’tibar”.
Hingga sekarang mayat tersebut masih ada
dan dapat disaksikan langsung dengan
mata kepala. Bagi yang tidak dapat
berkunjung ke sana dapat mengakses
internet google “Ada Mayat di atas Kubah
Masjid Nabawi”
SEJARAH
Sejarah bercerita, ketika Nabi sampai di
Madinah, pertama sekali dikerjakan Nabi
Saw adalah membangun Masjid Nabawi
dengan membeli tanah seharga 10 dinar
kepunyaan dua orang anak yatim Sahl dan
Suhail berukuran 3 x 30 m. Bangunan yang
sederhana itu hanya berdindingkan tanah
yang dikeringkan, bertiangkan pohon
kurma dan beratapkan pelepah kurma.
Sebelah Timur bangunan Masjid Nabawi
dibangun rumah Nabi Saw, dan sebelah
Barat dibangun ruangan untuk orang-orang
miskin dari kaum Muhajirin yang pada
akhirnya tempat itu dikenal dengan tempat
ahli Suffah (karena mereka tidur
berbantalkan pelana kuda).
Baru pada tahun ke-7 H, Nabi mengadakan
perluasan Masjid Nabawi ke arah Timur,
Barat, dan Utara sehingga berbentuk
bujursangkar 45 x 45 m dengan luas
mencapai 2.025 m dan program jangka
panjang untuk memperluas Masjid Nabawi
seperti yang kita lihat sekarang ini
diisyaratkan oleh Nabi Saw dengan
sabdanya menjelang wafat: “Selayaknya kita
memperluas masjid ini”.Hingga pada tahun
ke-17 H, Amirul Mukminin Umar bin Khattab
khalifah kedua, memperluas ke arah Selatan
dan Barat masing-masing 5 m dan ke Utara
15 m, dan dilanjutkan oleh Usman bin Affan
khalifah ketiga memperluas ke arah Selatan,
Utara dan Barat masing-masing 5 m pada
tahun ke-29 H.
Akhirnya pada masa Khalifah Bani Umayyah
Al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 88 H,
memperluas ke semua sisi Masjid Nabawi
termasuk ke arah Timur (rumah Nabi) dan
kamar-kamar isteri Nabi (hujurat) sehingga
makam Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar
Siddiq, dan Umar bin Khattab termasuk
bagian dari masjid dan berada di dalam
masjid yang sebelumnya terpisah dari
masjid.
Inilah yang menjadi pembahasan para
ulama dan fukaha di dalam Fikih Islam, yaitu
mendirikan bagunan seperti rumah kubah,
madrasah, dan masjid di atas kuburan.
Karena Nabi Saw bersabda : Allah mengutuk
umat Yahudi dan Nasrani yang membuat
kuburan para nabi mereka menjadi masjid-
masjid (tempat peribadatan). (HR. Bukhari
Muslim)Hadis di atas dipahami oleh
sebagian ulama terutama di kalangan
pengikut Syekh Muhammad bin Abdul
Wahab (Th. 1115 H/ 1703 M di Masjid Saudi
Arabia, dan aliran ini disebut oleh para
rivalnya sebagai aliran Wahabiyah, dan di
Indonesia dengan aliran Salafi). Secara
umum, tidak boleh melakukan kegiatan
ibadah di atas kuburan, berdoa menghadap
kuburan, dan membangun kubah di atas
kuburan.
Sama ada di atas tanah wakaf atau di atas
tanah pribadi. Sama ada untuk tujuan
penghormatan atau mengambil berkah dan
mengagungkan kuburan karena semua itu
adalah perbuatan sia-sia sebagaimana
dipahami oleh Sayyid Sabiq di dalam Fikih
Sunnah-nya.Sejalan dengan tujuan
berdirinya aliran Wahabiah ini untuk
memurnikan Tauhid, aliran ini cukup gencar
memusnahkan kubah-kubah yang dibangun
di atas kuburan, batu-batu nisan yang
bertuliskan nama-nama yang sudah wafat,
ayat-ayat Alquran yang tertulis di batu-batu
nisan, kuburan-kuburan para wali yang
dikeramatkan agar jangan terjadi khurafat,
syiruk dan bid’ah di dalam Tauhid dan
ibadah umat ini.Dan siapa saja di antara
umat Islam yang melakukan itu mereka
bukan lagi penganut Tauhid yang
sebenarnya, karena mereka meminta
pertolongan bukan kepada Tuhan lagi,
melainkan dari syekh atau wali dan dari
kekuatan gaib, dan orang-orang yang
demikian juga menjadi musyrik.Kenyataan
itu dapat dilihat sampai sekarang, bagi
jamaah haji yang berkunjung ke makam
Rasul, ke Baqi’, ke Ma’la, ke Uhud, dimana
para penziarah diusir karena mendoa
menghadap ke kuburan Nabi Saw. Demikian
juga bila kita berziarah ke Baqi’ dan Uhud,
tidak ada satu kuburan pun yang diberi
nama atau tanda untuk membedakan antara
kuburan sahabat-sahabat yang senior, para
ahli hadis, bahkan kuburan Aisyah dan
isteri-isteri Nabi pun tidak dapat dibedakan.
Kalau penziarah bertanya kepada para
“Satpam” kuburan baqi’ mana kuburan
isteri Nabi? Mana kuburan Usman bin Affan?
Mereka hanya menjawab “ana la adri” (saya
tidak tau)
Upaya Wahabi untuk memurnikan Tauhid
umat Islam lewat pemusnahan simbol-
simbol kuburan, batu nisan, dan kubah-
kubah yang dibangun di atas kuburan
dilakukan secara besar-besaran pada masa
Raja Abdul Azis. Tepatnya pada 8 Syawal
1345 H, bertepatan 21 April 1925 M, dimana
kuburan baqi’ yang tersusun rapi di sana
dimakamkan ahlil bait Nabi dan puluhan
ribu para sahabat, termasuk kuburan
Khadijah isteri Nabi yang pertama ummul
mukminin (ibu dari orang-orang beriman)
di Ma’la – Makkah, semuanya rata dengan
tanah.Terakhir ada seorang manusia yang
memanjat kubah hijau Masjid Nabawi
untuk dihancurkan, lalu disambar petir
secara tiba-tiba dan mati. Mayatnya
melekat pada kubah hijau tersebut dan
tidak dapat diturunkan sampai sekarang.
Syekh Zubaidy, ahli sejarah Madinah
menceritakan ada seorang soleh di kota
Madinah bermimpi, dan terdengar suara
yang mengatakan “Tidak ada satu orang
pun yang dapat menurunkan mayat
tersebut, agar orang yang belakangan hari
dapat mengambil, i’tibar”.
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah
ini, terlepas dari kebenarannya, bahwa
kembali kepada Tauhid yang murni
seperti zaman Rasul Saw adalah tujuan
dari dakwah Islam dan misi para Rasul
dan umat Islam mesti menerimanya, jika
tidak ingin menjadi orang musyrik. Akan
tetapi pemeliharaan nilai sejarah dan
para pelaku sejarah juga penting, karena
Allah berfirman : Sungguh di dalam
sejarah mereka terdapat pelajaran bagi
orang-orang yang berakal. (QS. Yusuf :
111). Akhirnya jika pelaku sejarah tidak
boleh dikenang, tidak dimuliakan, tidak
dihormati, kuburannya diratakan,
bagaimana kita mengambil pelajaran dari
sejarah tersebut? Adapun maksud Nabi Saw
Allah mengutuk Yahudi dan Nasrani
menjadikan kuburan sebagai tempat
ibadah, adalah menyembah kuburan.
Semoga kita dapat pelajaran. Wallahua’lam
***** (H.M. Nasir, Lc, MA : Penulis adalah
Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran
Al Mukhlisin Batubara, Pembantu Rektor IV
Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan ). Fenomena Mayat di
Atas Kubah Masjid NABAWI bukti
Kebesaran Allah SWT
Terakhir ada seorang manusia yang
memanjat kubah hijau Masjid Nabawi
untuk dihancurkan, lalu disambar petir
secara tiba-tiba dan mati. MAYATNYA
MELEKAT PADA KUBAH HIJAU TERSEBUT DAN
TIDAK DAPAT DITURUNKAN SAMPAI
SEKARANG. Syekh Zubaidy, ahli sejarah
Madinah menceritakan ada seorang soleh
di kota Madinah bermimpi, dan terdengar
suara yang mengatakan “Tidak ada satu
orang pun yang dapat menurunkan mayat
tersebut, agar orang yang belakangan
hari dapat mengambil, i’tibar”.
Hingga sekarang mayat tersebut masih ada
dan dapat disaksikan langsung dengan
mata kepala. Bagi yang tidak dapat
berkunjung ke sana dapat mengakses
internet google “Ada Mayat di atas Kubah
Masjid Nabawi”
SEJARAH
Sejarah bercerita, ketika Nabi sampai di
Madinah, pertama sekali dikerjakan Nabi
Saw adalah membangun Masjid Nabawi
dengan membeli tanah seharga 10 dinar
kepunyaan dua orang anak yatim Sahl dan
Suhail berukuran 3 x 30 m. Bangunan yang
sederhana itu hanya berdindingkan tanah
yang dikeringkan, bertiangkan pohon
kurma dan beratapkan pelepah kurma.
Sebelah Timur bangunan Masjid Nabawi
dibangun rumah Nabi Saw, dan sebelah
Barat dibangun ruangan untuk orang-orang
miskin dari kaum Muhajirin yang pada
akhirnya tempat itu dikenal dengan tempat
ahli Suffah (karena mereka tidur
berbantalkan pelana kuda).
Baru pada tahun ke-7 H, Nabi mengadakan
perluasan Masjid Nabawi ke arah Timur,
Barat, dan Utara sehingga berbentuk
bujursangkar 45 x 45 m dengan luas
mencapai 2.025 m dan program jangka
panjang untuk memperluas Masjid Nabawi
seperti yang kita lihat sekarang ini
diisyaratkan oleh Nabi Saw dengan
sabdanya menjelang wafat: “Selayaknya kita
memperluas masjid ini”.Hingga pada tahun
ke-17 H, Amirul Mukminin Umar bin Khattab
khalifah kedua, memperluas ke arah Selatan
dan Barat masing-masing 5 m dan ke Utara
15 m, dan dilanjutkan oleh Usman bin Affan
khalifah ketiga memperluas ke arah Selatan,
Utara dan Barat masing-masing 5 m pada
tahun ke-29 H.
Akhirnya pada masa Khalifah Bani Umayyah
Al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 88 H,
memperluas ke semua sisi Masjid Nabawi
termasuk ke arah Timur (rumah Nabi) dan
kamar-kamar isteri Nabi (hujurat) sehingga
makam Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar
Siddiq, dan Umar bin Khattab termasuk
bagian dari masjid dan berada di dalam
masjid yang sebelumnya terpisah dari
masjid.
Inilah yang menjadi pembahasan para
ulama dan fukaha di dalam Fikih Islam, yaitu
mendirikan bagunan seperti rumah kubah,
madrasah, dan masjid di atas kuburan.
Karena Nabi Saw bersabda : Allah mengutuk
umat Yahudi dan Nasrani yang membuat
kuburan para nabi mereka menjadi masjid-
masjid (tempat peribadatan). (HR. Bukhari
Muslim)Hadis di atas dipahami oleh
sebagian ulama terutama di kalangan
pengikut Syekh Muhammad bin Abdul
Wahab (Th. 1115 H/ 1703 M di Masjid Saudi
Arabia, dan aliran ini disebut oleh para
rivalnya sebagai aliran Wahabiyah, dan di
Indonesia dengan aliran Salafi). Secara
umum, tidak boleh melakukan kegiatan
ibadah di atas kuburan, berdoa menghadap
kuburan, dan membangun kubah di atas
kuburan.
Sama ada di atas tanah wakaf atau di atas
tanah pribadi. Sama ada untuk tujuan
penghormatan atau mengambil berkah dan
mengagungkan kuburan karena semua itu
adalah perbuatan sia-sia sebagaimana
dipahami oleh Sayyid Sabiq di dalam Fikih
Sunnah-nya.Sejalan dengan tujuan
berdirinya aliran Wahabiah ini untuk
memurnikan Tauhid, aliran ini cukup gencar
memusnahkan kubah-kubah yang dibangun
di atas kuburan, batu-batu nisan yang
bertuliskan nama-nama yang sudah wafat,
ayat-ayat Alquran yang tertulis di batu-batu
nisan, kuburan-kuburan para wali yang
dikeramatkan agar jangan terjadi khurafat,
syiruk dan bid’ah di dalam Tauhid dan
ibadah umat ini.Dan siapa saja di antara
umat Islam yang melakukan itu mereka
bukan lagi penganut Tauhid yang
sebenarnya, karena mereka meminta
pertolongan bukan kepada Tuhan lagi,
melainkan dari syekh atau wali dan dari
kekuatan gaib, dan orang-orang yang
demikian juga menjadi musyrik.Kenyataan
itu dapat dilihat sampai sekarang, bagi
jamaah haji yang berkunjung ke makam
Rasul, ke Baqi’, ke Ma’la, ke Uhud, dimana
para penziarah diusir karena mendoa
menghadap ke kuburan Nabi Saw. Demikian
juga bila kita berziarah ke Baqi’ dan Uhud,
tidak ada satu kuburan pun yang diberi
nama atau tanda untuk membedakan antara
kuburan sahabat-sahabat yang senior, para
ahli hadis, bahkan kuburan Aisyah dan
isteri-isteri Nabi pun tidak dapat dibedakan.
Kalau penziarah bertanya kepada para
“Satpam” kuburan baqi’ mana kuburan
isteri Nabi? Mana kuburan Usman bin Affan?
Mereka hanya menjawab “ana la adri” (saya
tidak tau)
Upaya Wahabi untuk memurnikan Tauhid
umat Islam lewat pemusnahan simbol-
simbol kuburan, batu nisan, dan kubah-
kubah yang dibangun di atas kuburan
dilakukan secara besar-besaran pada masa
Raja Abdul Azis. Tepatnya pada 8 Syawal
1345 H, bertepatan 21 April 1925 M, dimana
kuburan baqi’ yang tersusun rapi di sana
dimakamkan ahlil bait Nabi dan puluhan
ribu para sahabat, termasuk kuburan
Khadijah isteri Nabi yang pertama ummul
mukminin (ibu dari orang-orang beriman)
di Ma’la – Makkah, semuanya rata dengan
tanah.Terakhir ada seorang manusia yang
memanjat kubah hijau Masjid Nabawi
untuk dihancurkan, lalu disambar petir
secara tiba-tiba dan mati. Mayatnya
melekat pada kubah hijau tersebut dan
tidak dapat diturunkan sampai sekarang.
Syekh Zubaidy, ahli sejarah Madinah
menceritakan ada seorang soleh di kota
Madinah bermimpi, dan terdengar suara
yang mengatakan “Tidak ada satu orang
pun yang dapat menurunkan mayat
tersebut, agar orang yang belakangan hari
dapat mengambil, i’tibar”.
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah
ini, terlepas dari kebenarannya, bahwa
kembali kepada Tauhid yang murni
seperti zaman Rasul Saw adalah tujuan
dari dakwah Islam dan misi para Rasul
dan umat Islam mesti menerimanya, jika
tidak ingin menjadi orang musyrik. Akan
tetapi pemeliharaan nilai sejarah dan
para pelaku sejarah juga penting, karena
Allah berfirman : Sungguh di dalam
sejarah mereka terdapat pelajaran bagi
orang-orang yang berakal. (QS. Yusuf :
111). Akhirnya jika pelaku sejarah tidak
boleh dikenang, tidak dimuliakan, tidak
dihormati, kuburannya diratakan,
bagaimana kita mengambil pelajaran dari
sejarah tersebut? Adapun maksud Nabi Saw
Allah mengutuk Yahudi dan Nasrani
menjadikan kuburan sebagai tempat
ibadah, adalah menyembah kuburan.
Semoga kita dapat pelajaran. Wallahua’lam
***** (H.M. Nasir, Lc, MA : Penulis adalah
Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran
Al Mukhlisin Batubara, Pembantu Rektor IV
Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan ).

Menakjubkan: Perahu Nabi Nuh AS Telah Ditemukan Melalui Penelitian Ilmiah

Umat Nabi Nuh AS yang ditenggelamkan oleh Allah SWT karena kedurhakaannya menolak seruan Nabi Nuh untuk menyembah Allah SWT seperti dikisahka
n dalam Al-Qur’an, sudah ditemukan bukti kebenarannya secara ilmiah. Kisah Nuh ini terdapat tiga kitab suci: Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dalam Injil disebutkan di Gunung Ararat, Al-Qur’an menyebutnya Gunung Judi, dan masyarakat setempat menamakannya Gunung Agri, semuanya merujuk pada tempat yang sama. Al-Qur’an tidak bicara detail ttg perahu Nuh, hanya menjelaskan kisah pembangkangan umatnya, ditenggelamkannya dan pelajarannya yang harus diambil. Sejak tahun 1949, sudah ditemukan lokasinya dan kemudian dilakukan penggalian oleh penelitian tim antropolog yang dipimpin oleh Prof. Ron Wyatt di Turki sejak tahun 1977.

1. Awal Penemuan

Pemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 meter). Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda mirip perahu di puncak gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang diduga perahu Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark)

2. Foto-foto tahun 1999-2000

Seri pemotretan oleh Penerbangan AS IKONOS tahun 1999-2000 tentang dugaan adanya perahu di Gunung Ararat yang tertutup salju.

3. Peta Lokasi Pendaratan Perahu Nabi Nuh

4. Tanah berbentuk Perahu Nabi Nuh di atas Gunung Ararat/Judi, Turki Selatan

5. Situs Perahu Nabi Nuh sebelum dibersihkan, kayu-kayunya sebagian sudah membatu

Ok sekarang kita lihat kebenarannya.

14 Hal Penting untuk Diketahui tentang Perahu Nabi Nuh!!

1.Bentuknya adalah perahu dengan deknya berbentuk bundar/melingkar.
2.Panjangnya seperti dinyatakan Bible adalah 515 feet atau 300 cubit Mesir [± 160 meter.
3. Perahu ini terdampar di Timur Turki, akur dengan pernyataan Bible, “Perahu itu terdampar … di atas pegunungan Ararat” (Genesis 8:4). (Ararat adalah sebutan untuk negara kuno Urartu yang meliputi wilayah ini.
4.Dari pengujian laboratotirum, perahu itu adalah kayu yang sudah membatu.
5.Dari beberapa pengujian terpisah, bahannya mengandung metal yang sangat kuat dan berteknologi tinggi. Metal alumunium dan titanium ditemukan ditemukan menyatu yang dibuat tangan manusia.
6. Bingkai timah vertikal pada sisi-sisinya menunjukkan kerangka struktur perahu yang canggih. Pola-pola yang sama pada dek horisontal dan vertikal yang memperkuat balok-balok tiang juga terlihat di atas dek perahu.
7.Lokasi perahu itu menutupi sebuah desa kuno di ketinggian 6.500 kaki (2275 meter.
8.Dr. Bill Shea, seorang antropolog, menemukan pecahan-pecahan tembikar sekitar 18 meter dari perahu yang memiliki ukiran2 burung, ikan, dan orang memegang palu dengan memakai hiasan kepala yang bertuliskan “Nuh.” Pada zaman kuno, barang-barang tersebut dibuat oleh penduduk lokal di desa itu untuk dijual kepada para pengunjung perahu. Sejak zaman kuno hingga sekarang, perahu tersebut telah menjadi lokasi wisata.
9.Sekarang ini lokasi itu dijadikan Taman Nasional Perahu Nabi Nuh dan (Warisan Nasional. Pejabat setempat menyebutkan berita liputan penemuan perahu tersebut muncul dalam koran terbesar Turki pada tahun 1987.
10.Gedung Pusat Turis dibangun oleh Pemerintah untuk mengakomodasi para turis agar mengetahui pentingnya lokasi tersebut.
11.Jangkar batu besar ditemukan dekat perahu di Desa Kazan, berjarak 15 mile (24 meter) yang menggantung di bagian belakang perahu untuk mengokohkan tumpangan.
12.Perahu terletak di atas Gunung Cesnakidag yang diartikan sebagai “Gunung Kiamat.”
13.Dr. Salih Bayraktutan dari Universitas Ataturk menyatakan “ Perahu ini adalah strukur yang dibuat manusia dan karenanya yakin ini adalah Perahu Nabi Nuh.” Artikel itu juga menyatakan, “Lokasinya di Gunung Judi yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai tempat pendaratan bahtera.” Surat Hud ayat 44.
14.can radar menunjukkan pola timah yang tetap di dalam formasi perahu, ada balok-balok kayu besar di dasar perahu, dinding pemisah, kandang2 binatang, sistem lorong-lorong jalan dalam perahu, pintu bagian depan, dua tong besar berukuran 14’x24’, dan sebuah pusat area terbuka untuk sirkulasi udara untuk tiga tingkat ruangan dalam perahu.
Jangan Lupa tag dan share jika menurut kalian Bermanfaat. Maaf jga karena agak lama, maklum koneksi lemot.:D